Lelaki Tua dan Puisi yang Belum Usai, Getir Hati Irfendi Arbi di Balik Kepulangan Iyut Fitra

0 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

Payakumbuh – Belum hilang di ingatan saat Irfendi Arbi duduk bersimpuh di samping tempat tidur Iyut Fitra beberapa waktu lalu. Saat itu, suasana di kediaman sang penyair di kawasan Balai Nan Duo terasa begitu hening, hanya ada untaian doa dan harapan yang mengalir pelan. Namun kini, bait-bait puisi yang biasanya lahir dari tangan dingin sang maestro sastra itu benar-benar harus menemui titik terakhirnya.

​Senin (27/4/2026) menjadi hari duka bagi dunia sastra Luak Limopuluah saat Iyut Fitra dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Sang penyair yang lahir di Padang Tongah Balai Nan Duo pada 16 Februari 1968 tersebut meninggalkan warisan literasi yang besar bagi Indonesia dan luka yang mendalam bagi sahabat terdekatnya, Irfendi Arbi.

​Mantan Bupati Limapuluh Kota itu sebelumnya, Senin (16 Maret 2026) lalu, sempat menjenguk Iyut saat kondisinya mulai melemah. Dalam kunjungan tersebut, Irfendi tak mampu menyembunyikan kesedihannya melihat sosok yang biasanya penuh energi dalam berpuisi, harus terbaring lemah. Irfendi mengenang dengan suara parau bahwa saat itu ia hanya ingin memberikan semangat agar Iyut terus kuat karena karya-karyanya masih sangat dibutuhkan.

​Kesetiaan Irfendi Arbi sebagai sahabat tidak hanya berhenti pada doa. Di rumah duka hingga ke tempat peristirahatan terakhir, Selasa (28 April 2026), Irfendi tampak hadir dengan raut wajah penuh kehilangan. Puncaknya, saat prosesi pemakaman berlangsung, suasana haru menyelimuti pelayat ketika Irfendi Arbi langsung memegang cangkul, ikut serta secara fisik memakamkan Iyut Fitra ke liang lahat. Dengan peluh yang bercampur duka, ia mengantarkan sang penyair hingga benar-benar menyatu dengan bumi. Ketulusan ini menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus tanda perpisahan yang sangat personal bagi keduanya.

​Di sela-sela prosesi tersebut, Irfendi Arbi mengungkapkan rasa kehilangan yang luar biasa. Baginya, Iyut Fitra bukan sekadar seniman, melainkan simbol integritas dan kecintaan pada tanah kelahiran. Irfendi menyampaikan rasa duka mendalam dan mendoakan agar sang penyair mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Ia merasa bersyukur sempat menjenguk dan mendoakannya langsung secara tatap muka beberapa waktu lalu, yang ternyata menjadi pertemuan terakhir mereka di dunia ini.

​Irfendi menambahkan bahwa warisan terbesar Iyut bukanlah sekadar buku-buku puisi yang menumpuk di rak, melainkan semangat untuk menghidupkan ruh kebudayaan di Sumatera Barat. Meskipun raga Iyut Fitra kini telah tiada, namun baris-baris puisinya akan tetap abadi. Sosoknya yang bersahaja namun kritis akan selalu dikenang oleh masyarakat seni sebagai penjaga nyala sastra dan budaya di Luak Limopuluah.

​Kini, masyarakat beserta sahabat-sahabatnya melepas kepergian sang penyair. Sebagaimana bait-bait yang sering ia tulis, kematian hanyalah sebuah rima terakhir dari sebuah perjalanan panjang menuju keabadian. (Bayu)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %