Payakumbuh – Di balik dinding putih RSUD Adnan WD yang kaku dan aroma obat yang menusuk, sebuah kisah tentang ketulusan terajut pada Senin (27/4/2026). Di salah satu sudut ruang rawat, waktu seolah berhenti berdetak saat mantan Bupati Kabupaten Limapuluh Kota periode 2016-2021, Irfendi Arbi melangkah masuk, membawa senyum yang selama ini dikenal akrab oleh rakyat Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh-Kabupaten Limapuluh Kota).
Kehadirannya bukan sekadar kunjungan formal seorang mantan pemimpin, melainkan sebuah kepulangan seorang sahabat kepada saudaranya. Nur Akmal, sang pujangga berita sekaligus wartawan senior yang telah memahat sejarah Luak Limopuluah lewat ujung penanya, terbaring lemah. Namun, saat tatap mata keduanya bertemu, ada binar yang kembali menyala. Kedatangan sang bapak pengayom itu menjelma menjadi “obat” yang tak mampu diracik oleh apotek mana pun.
Di sisi tempat tidur, Irfendi Arbi berdiri dengan kerendahan hati yang masih sama seperti dulu. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada dinding protokol. Yang ada hanyalah percakapan batin antara dua pejuang daerah yang telah melintasi berbagai zaman bersama. Genggaman tangan sang putra terbaik daerah itu seakan menyalurkan energi baru ke nadi Nur Akmal, sebuah kekuatan moril yang membisikkan bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan melawan sakit.
Irfendi Arbi menatap lekat sahabatnya itu sembari mengenang sosok Nur Akmal sebagai guru sekaligus pelita dalam menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Ia membawa doa yang tulus, berharap agar sang jurnalis senior kembali berdiri tegak, kembali menggenggam pena, dan kembali mewarnai cakrawala informasi di Luak Limopuluah.
Bagi keluarga dan rekan yang menyaksikan, kehadiran figur pemimpin yang merakyat ini adalah oase di tengah gersangnya kecemasan. Kehadiran sosok teladan ini adalah penghormatan tertinggi bagi pengabdian panjang seorang Nur Akmal. Di bangsal tersebut, kesembuhan seolah terasa lebih dekat, mengalir perlahan melalui doa-doa yang dipanjatkan dan persahabatan yang tak lekang oleh waktu.
Diucapkan Irfendi, kini, doa-doa terus membubung ke langit, berharap sang tokoh pers segera pulih untuk kembali menuliskan cerita-cerita tentang kehidupan, sebagaimana kehadirannya hari ini telah menjadi cerita yang indah di ruang rumah sakit. (Bayu)
