Limapuluh Kota – Dibalut rona cakrawala yang kian kelabu, rintik hujan sore itu seolah luruh mewakili jutaan kata yang tertahan di tenggorokan. Isak tangis pecah, memecah kesunyian Hunian Sementara (HUNTARA) Jorong Aie Angek saat satu per satu mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) melangkah pamit, baru-baru ini. Tidak ada kata selamat tinggal yang sanggup terucap sempurna, yang ada hanyalah pelukan yang kian mengerat, bahu yang terguncang hebat, dan tatapan mata berkaca-kaca yang seolah memohon agar waktu berhenti sejenak.
“Terima kasih ya nak, jangan lupakan kami di sini…” bisik Ibu Ani dengan suara bergetar, jemarinya yang kasar karena trauma bencana mendekap erat punggung salah satu mahasiswa.
Di pelukan itu, ada aroma kerinduan yang mendalam. Sebuah bukti bahwa kehadiran para mahasiswa Program Mahasiswa Berdampak telah menyusup jauh ke dalam relung hati warga Kenagarian Koto Tinggi yang sedang terluka.
Jorong Aie Angek bukanlah sekadar titik koordinat pengabdian, melainkan nisan dari kenangan yang terkubur. Wilayah ini adalah saksi bisu betapa angkuhnya amukan alam pada November 2025 lalu, saat bumi yang mereka pijak tiba-tiba berkhianat, meretakkan fondasi rumah, dan meruntuhkan asa 702 jiwa ke dalam puing-puing kehancuran.
Di atas tanah yang masih menganga oleh luka dan sisa-sisa duka inilah, 50 mahasiswa PPNP datang bukan sebagai pahlawan yang berdiri di atas podium, melainkan sebagai saudara yang bersedia ikut berlumur lumpur. Selama sebulan lebih, mereka tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga berbagi napas di pengungsian, mendengarkan rintihan warga di kala malam, dan mencoba menyemai kembali kepingan harapan di atas tanah yang sempat kehilangan ruhnya.
Bagi warga, kepergian mahasiswa ini adalah kehilangan kedua setelah bencana. Namun kali ini, kehilangan itu diiringi dengan benih harapan yang mulai tumbuh di sela-sela retakan bumi.
Di bawah komando Synthia Ona Guserike Afner, S.P, M.P sebagai PIC Program, serta pendampingan dari Dr. Hendra Alfi, Veronika Sriwulandari, dan Dr. Aflizar, para mahasiswa bergerak memulihkan berbagai sendi kehidupan warga. Mereka membangun demplot sayuran, menanam hortikultura cepat panen, hingga membuat kolam ikan dan kandang ayam sebagai wujud pertanian terpadu untuk ketahanan pangan.
Selain itu, pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) sederhana dilakukan untuk menjaga kesehatan ekosistem HUNTARA dari pencemaran sampah. Tidak hanya soal fisik, pendampingan psikososial juga diberikan bagi anak-anak korban bencana untuk mengembalikan rasa aman yang sempat hilang, dibarengi dengan penguatan kelembagaan pemuda dan ibu-ibu PKK agar masyarakat kembali produktif.
Surya Ari Dharma selaku perangkat Nagari Koto Tinggi tak kuasa menyembunyikan rasa syukur sekaligus kehilangan saat acara penutupan.
Ia mengungkapkan bahwa program ini sangat menyentuh dan bermanfaat bagi warga yang sedang mencoba menata kembali hidup. Harapan besar ia sampaikan agar bimbingan ilmu pertanian dari PPNP tetap berlanjut di masa depan bagi kemajuan masyarakat Gunuang Omeh.
“Kehadiran mahasiswa PPNP selama ini telah membuktikan satu hal bahwa mereka hadir bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk berdampak. Meski langkah kaki mereka kini harus meninggalkan Koto Tinggi, harapan yang telah mereka tanam di tanah yang retak itu dipastikan akan terus tumbuh dan bersemi di hati warga,” ungkap Surya. (Bayu)
