Rang Mudo Payakumbuh Siap Kawal Adat di Era Digital

0 0
Read Time:3 Minute, 4 Second

Payakumbuh – ​Pemerintah Kota Payakumbuh terus memperkuat pelestarian adat sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Adat Tingkat Kota Payakumbuh bertema Rang Mudo Mengawal Peradaban yang diikuti rang mudo dan puti bungsu dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Payakumbuh itu dibuka oleh Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Nofriwandi di Aula Gedung Serbaguna Sawah Padang Aua Kuniang pada Selasa 7 Juli 2026.

​Pelatihan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan nilai-nilai adat Minangkabau agar tetap hidup berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Mewakili Wali Kota Zulmaeta Nofriwandi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan pelatihan tersebut. Menurutnya pelestarian adat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar nilai-nilai luhur Minangkabau terus diwariskan kepada generasi penerus.

​Ia mengatakan falsafah Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah merupakan landasan utama kehidupan masyarakat Minangkabau yang tidak hanya menjadi identitas budaya tetapi juga pedoman dalam membentuk karakter etika dan kepribadian generasi muda. Menurutnya pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga kesenian maupun tradisi seremonial tetapi juga memastikan nilai-nilai adat tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

​Nofriwandi menjelaskan Minangkabau memiliki pedoman etika melalui Kato Nan Ampek yang mengajarkan tata krama berkomunikasi sesuai dengan posisi dan usia lawan bicara. Generasi muda harus memahami kapan menggunakan Kato Mandaki kepada yang lebih tua Kato Manurun kepada yang lebih muda Kato Mandata kepada sesama dan Kato Malereng kepada tokoh yang dihormati. Jika etika komunikasi ini runtuh maka salah satu jembatan persatuan masyarakat juga akan ikut runtuh. Selain itu ia juga mengingatkan pentingnya mengamalkan nilai Sumbang Duo Baleh sebagai pedoman etika dalam kehidupan sehari-hari mulai dari cara duduk berdiri berjalan hingga bertutur kata. Nilai-nilai tersebut menjadi benteng moral yang mampu membentuk generasi muda berkarakter di tengah perubahan zaman.

​Di sisi lain ia menegaskan bahwa menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan. Justru masyarakat Minangkabau telah lama diajarkan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas budaya. Orang tua-tua dahulu telah mengingatkan melalui pepatah Sakali aia gadang sakali tapian barubah. Hari ini perubahan itu hadir dalam bentuk digitalisasi kecerdasan buatan dan globalisasi sehingga generasi muda harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan akar budaya. Ia menambahkan teknologi digital dan ekonomi kreatif harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan adat seni dan budaya Minangkabau kepada masyarakat yang lebih luas termasuk generasi muda.

​Menurutnya pelestarian adat hanya dapat berhasil apabila pemerintah lembaga adat bundo kanduang tokoh masyarakat dan generasi muda berjalan bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri lembaga adat tidak bisa bergerak sendiri dan generasi muda tidak boleh menjadi penonton di tanahnya sendiri. Prinsip Barek samo dipikua ringan samo dijinjiang serta Saciok bak ayam sadanciang bak basi harus dipegang teguh untuk mengangkat kembali marwah adat Minangkabau. Ia berharap seluruh peserta mampu menjadi generasi yang tidak hanya cakap menghadapi perkembangan teknologi tetapi juga memiliki etika sopan santun dan kebanggaan terhadap identitas budayanya.

​Pelatihan adat tersebut berlangsung selama tiga hari pada 7 sampai 9 Juli 2026. Para peserta mendapatkan materi dari unsur Pemerintah Kota Payakumbuh niniak mamak budayawan Kota Payakumbuh serta budayawan Provinsi Sumatera Barat mengenai falsafah adat Minangkabau kepemimpinan etika bermasyarakat pelestarian budaya hingga peran generasi muda dalam mengawal peradaban di era digital.

​Pembukaan kegiatan turut dihadiri pengurus Kerapatan Adat Nagari dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh Bundo Kanduang dari 10 nagari serta perwakilan Badan Narkotika Nasional Kota Payakumbuh. Melalui pelatihan ini Pemerintah Kota Payakumbuh berharap lahir generasi muda yang mampu menjaga nilai-nilai adat Minangkabau sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bagi masyarakat penguatan adat diharapkan mampu memperkokoh karakter menjaga keharmonisan sosial serta mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah. (Bayu)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %