Limapuluh Kota — Di pelataran Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Limapuluh Kota, waktu seolah melambat antara Senin hingga Rabu (16-18 Maret2026) itu. Tidak ada keriuhan politik yang dingin, yang ada hanyalah getaran ketulusan yang mengalir dari jemari Siska saat menyentuh tangan-tangan legam para konstituennya. Di penghujung Ramadan 1447 H, saat gema takbir mulai dipersiapkan di relung jiwa, Siska memilih berdiri di garis depan bukan untuk sekadar berpidato, melainkan untuk melunasi sebuah hak yang ia yakini sepenuhnya milik rakyat.
Bagi Ketua DPC PDI Perjuangan ini, setiap rezeki yang ia terima di kursi parlemen adalah titipan yang memiliki alamat asli di rumah-rumah warga. Tanpa menyentuh uang negara, ia merogoh saku pribadinya untuk memastikan seribu lima ratus lima puluh dapur masyarakat di Dapil 1 tetap mengepul hangat saat hari kemenangan tiba. Ada minyak goreng yang jernih, bawang merah yang aromatik, manisnya gula dan sirup, hingga seekor ayam yang akan menjadi hidangan utama di meja makan. Namun bagi masyarakat, lebih dari sekadar isi paket itu, ada martabat yang dijunjung tinggi oleh wakil mereka.
Amanah ini bukan tentang jabatan, tutur Siska dengan nada yang menggetarkan sanubari, namun tentang bagaimana suara di nagari-nagari terjauh bisa bergaung di ruang sidang paripurna. Ia adalah wajah tunggal PDI Perjuangan di DPRD Limapuluh Kota, sosok yang berdiri kokoh dalam dedikasi meski menjadi representasi tunggal partainya.
Di mata Roza Malina, seorang warga dari jorong Koto Tangah, Siska adalah sosok yang menolak terbuai kemapanan pusat kota karena baginya keadilan harus menyentuh hingga ke setapak jalan di wilayah pinggiran yang selama ini kurang terperhatikan.
“Meski memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin partai, langkah Siska dikenal sangat humanis sebagai seorang ibu sekaligus pejuang yang tidak segan turun langsung ke lapangan. Di tangannya, politik tidak lagi terasa kaku dan berjarak karena ia mampu menjalin komunikasi lintas fraksi demi kepentingan daerah yang lebih besar. Saat ia mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, terpancar ketulusan yang mengalir hingga ke relung jantung rakyat, membuktikan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kedekatan tanpa sekat,” ujar Roza.
Senada dengan itu juga disampaikan Lola warga kenagarian Solok Bio-Bio. Ia menilai kehadiran Siska di gedung DPRD telah memberi warna baru dalam pengambilan kebijakan di Limapuluh Kota yang berani, merakyat, serta penuh pengabdian.
“Di Batu Balang ini, ibu Siska tidak sedang membangun citra politik, ia sedang merajut kasih sayang melalui tindakan nyata yang meresap dalam ingatan setiap jiwa yang ia temui. Pengabdiannya adalah sebuah bukti bahwa perjuangan yang dilakukan dengan hati akan selalu menemukan jalannya untuk menetap di hati rakyat,” pungkas Lola. (Bayu)
