Limapuluh Kota, zonamerah.co – Di balik rimbunnya hutan Kenagarian Galuguah, sebuah dilema besar sedang menyayat hati masyarakat. Aroma getah gambir yang biasanya menjadi napas ekonomi warga kini kian hambar, tergerus harga komoditas yang tak lagi mampu menutup dapur yang berasap. Di tengah himpitan perut itulah, kilau emas ilegal dari perut bumi Kapur IX mulai dilirik sebagai pelarian, meski harus berhadapan dengan hukum dan risiko rusaknya alam.
Pada Jumat 27 Februari 2026, Satreskrim Polres 50 Kota melakukan langkah nyata untuk memutus rantai aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin atau PETI tersebut. Tim gabungan yang dipimpin KBO Reskrim Iptu Restu Guspriyoga harus menembus medan berat dan menyeberangi sungai dengan sampan demi mencapai titik-titik galian di Jorong Tanjung Jajaran dan Jorong Galuguah.
Setibanya di lokasi, tim tidak lagi menemukan deru mesin alat berat yang dilaporkan warga. Yang tersisa hanyalah lubang-lubang galian yang menganga seperti luka di tubuh bumi serta selang-selang merah yang menjuntai lemas. Namun di sana masih terlihat beberapa warga yang mengadu nasib secara manual dengan dulang tradisional.
Dalam dialog yang penuh kegetiran, terungkap alasan di balik nekatnya warga kembali ke sungai-sungai keruh tersebut karena rendahnya harga gambir yang selama ini menjadi mata pencaharian utama mereka.
Kapolres 50 Kota AKBP Syaiful Wachid menegaskan bahwa komitmen penegakan hukum adalah harga mati, namun tetap dilakukan dengan pendekatan hati ke hati. Di satu sisi, polisi membongkar dan membakar pondok-pondok pekerja serta memasang spanduk larangan sebagai simbol ketegasan.
Di sisi lain, mereka memberikan edukasi bahwa merusak alam bukanlah solusi jangka panjang. Penegakan hukum ini bukan semata-mata tindakan represif, tetapi juga untuk melindungi lingkungan hidup serta keselamatan masyarakat.
Perjalanan pulang tim Polres 50 Kota meninggalkan pesan mendalam bagi warga Kapur IX. Bahwa emas yang digali secara ilegal mungkin bisa menyambung hidup untuk sehari, namun kerusakan alam yang ditinggalkan akan menjadi beban bagi anak cucu nanti. Kini warga Galuguah berada di persimpangan jalan, menanti wangi gambir kembali bersemi atau mencari solusi ekonomi baru yang lebih bermartabat agar tak ada lagi hati yang perih di balik kilau emas yang semu. (Bayu)
