​Jurnalis Luak 50 Gedor Gerbang Dunia Lewat TMMD ke-129 di Buluh Kasok

0 0
Read Time:2 Minute, 44 Second

​Limapuluh Kota – Pagi itu, Rabu, 15 Juli 2026, kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Jorong Buluh Kasok, Kenagarian Sarilamak, Kabupaten Limapuluh Kota, mendadak pecah oleh riuh yang tidak biasa. Di sela deru mesin alat berat dan langkah tegap prajurit TNI, tampak jemari-jemari lincah para jurnalis Luak Limopuluah sibuk mengetik di layar Android mereka.

​Hari itu bukan sekadar seremoni pembukaan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129. Hari itu adalah proklamasi sebuah kolaborasi besar, TNI yang bergerak membangun fisik di lapangan, dan para jurnalis Luak 50 yang bergerak cepat menggedor gerbang dunia agar suara warga Buluh Kasok tak lagi sunyi.

​Selama bertahun-tahun, pesona alam Buluh Kasok tertutup oleh kabut nestapa akibat minimnya perhatian dan akses pembangunan. Setiap kali hujan deras mengguyur, sungai Buluh Kasok meluap, memutus urat nadi desa dan mengisolasi warga dari dunia luar.

​Potret memilukan ini pernah direkam langsung oleh lensa kamera para jurnalis beberapa waktu lalu. Mulai dari anak-anak sekolah yang terpaksa libur, hingga momen ketika buku-buku pelajaran mereka harus berganti sekop demi membersihkan sisa lumpur banjir di ruang kelas. Di sudut lain, beberapa rumah warga berdiri cemas di bantaran sungai dengan fondasi yang terus terkikis arus. Jeritan sunyi ini berbulan-bulan hingga bertahun-tahun terkubur di pelosok, hingga akhirnya TNI datang membawa perubahan, dan jurnalis kembali datang membawa corong pengeras suara ke jagat maya.

​Di bawah komando Letkol Inf. Adi Nofriadi Nata selaku Dandim 0306/50 Kota, TMMD ke-129 hadir sebagai jawaban nyata atas penderitaan warga. Beliau menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar proyek fisik, melainkan jembatan hati antara TNI, Pemerintah Daerah, dan masyarakat untuk menghadirkan keadilan pembangunan di pelosok wilayah.

​Sementara prajurit TNI bersama masyarakat setempat bercucuran keringat membuka jalan, di sudut-sudut lapangan, para jurnalis seperti Aking, Edwardi, Ady Parker dan Bambang bergerak cepat menyisir lokus penanaman jagung, penanaman pohon hingga pembangunan rumah layak huni. Bermodalkan gawai di tangan dan kepekaan nurani, mereka merangkai kata demi kata. Melalui ketukan jemari para kuli tinta inilah, gerbang dunia digedor dengan masif agar publik dan pemangku kebijakan melihat jelas perjuangan hidup masyarakat di pelosok ini.

​Kerja keras TNI yang dikawal oleh publikasi militan dari para jurnalis Luak 50 ini akhirnya membuahkan hasil nyata. Sinergi ini sukses menghadirkan perubahan di berbagai sektor krusial, meliputi pembukaan jalan baru sepanjang 2.700 meter (2,7 kilometer) yang menghubungkan Jorong Buluh Kasok menuju Jorong Air Putih, serta perbaikan jembatan utama. Tidak hanya itu, pembangunan juga mencakup pembuatan sumur bor untuk fasilitas umum guna menjamin hak hidup sehat warga, serta pembangunan total 7 unit Rumah Layak Huni (RLH) bagi warga yang membutuhkan.

​Perubahan besar ini disambut haru biru oleh masyarakat setempat. Walinagari Olly Wijaya didampingi Kepala Jorong Buluh Kasok, Edison, menyampaikan rasa terima kasih mendalamnya kepada TNI dan insan pers. Ia mengakui bahwa tanpa pena dan publikasi dari rekan-rekan jurnalis yang gencar menggedor gerbang dunia, mungkin kebutuhan mendasar warga akan air bersih, rumah layak, dan jalan ini tidak akan mendapat perhatian secepat ini. Baginya, kolaborasi erat ini membuat warga yakin bahwa masa depan Buluh Kasok kini jauh lebih cerah.

​Perjuangan di Buluh Kasok menjadi bukti nyata bahwa pembangunan tidak bisa berjalan dalam kesunyian. Menurut Edison juga dibutuhkan otot-otot kokoh para prajurit TNI untuk membelah bukit dan membangun jembatan, namun dibutuhkan pula ketajaman pena para jurnalis untuk memastikan perjuangan tersebut didengar dan didukung oleh dunia. (Bayu)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %