Limapuluh Kota — Di sela mendung yang masih enggan beranjak dari langit Buluh Kasok, Yulinar yang kini menginjak usia 58 tahun hanya bisa menatap nanar ke arah jendela belakang rumahnya. Bukan ketenangan hijau perbukitan yang ia dapati, melainkan suara gemuruh air sungai yang kini terdengar jauh lebih dekat, terlalu dekat dari yang sanggup ia tanggung dalam tidurnya.
Banjir yang menerjang kemarin bukan sekadar lewat membawa lumpur. Ia datang seperti pencuri yang merenggut ketenangan. Tebing yang selama ini menjadi penyangga kokoh hunian Yulinar kini menyerah pada derasnya arus. Tanah yang ia pijak bertahun-tahun itu kini gugur serta menyisakan jurang yang menganga tepat di belakang rumahnya.
”Setiap kali hujan turun lagi, jantung ini rasanya ikut luruh bersama tanah di bawah sana,” bisik warga yang kini hanya bisa pasrah menatap ancaman abrasi yang kian melebar.
Bagi Yulinar dan warga di sekitarnya, rumah bukan sekadar atap untuk berteduh melainkan tumpuan hidup. Namun kini rumah itu berdiri di atas ketidakpastian. Satu terjangan air lagi mungkin tak akan ada lagi dinding tempat bersandar. Setiap mendung menggelayut, hanya ada satu doa yang terucap lirih, Tuhan jangan turunkan hujan malam ini.
Keresahan ini berdenyut kencang di nadi masyarakat Buluh Kasok. Dodi Putra Dt. Gindo selaku tokoh masyarakat setempat tak kuasa menyembunyikan rasa prihatinnya. Baginya runtuhnya tebing ini bukan sekadar masalah teknis infrastruktur melainkan urusan nyawa dan air mata warga yang ia ayomi.
”Kita tidak sedang bicara soal tanah yang jatuh ke sungai saja, tapi soal rasa aman yang hilang dari ruang tamu warga kami. Rumah Ibu Yulinar kini berada di ujung tanduk. Jika solusi tak segera datang, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai alam mengambil semuanya,” ujarnya.
Di tengah jeritan sunyi warga yang dihantui longsor, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota, Zaimar Hakim, saat dikonfirmasi wartawan pada Senin 23 Maret 2026 menyatakan bahwa penanganan ini bersinggungan dengan ranah instansi lain.
Zaimar menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan dari Dinas PUPR dan pihaknya bersedia mengirimkan nomor kontak pimpinan dinas terkait agar dapat bersama-sama turun meninjau ke lokasi.
Secercah harapan mulai muncul saat Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha, merespons kegelisahan masyarakat tersebut. Ia memastikan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dan segera melakukan peninjauan ke lokasi terdampak.
Ahlul menyampaikan bahwa langkah aksi sudah ditindaklanjuti ke pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) dan diharapkan penanganan tebing tersebut bisa masuk dalam agenda Operasi dan Pemeliharaan (OP) normalisasi sungai. Ia pun menyampaikan apresiasinya atas peran aktif masyarakat dalam menyalurkan aspirasi warga yang sedang terdesak bencana ini.
Namun harapan warga untuk segera mendapat kepastian masih tertahan di pintu birokrasi. Hingga kabar ini tersiar, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang coba dihubungi diduga sedang sibuk atau masih menikmati lebaran bersama keluarga, karena belum memberikan balasan ketika dikonfirmasi.
Kini di antara sisa-sisa tanah yang terus meluruh terselip satu titik lara yang butuh segera dibasuh. Masyarakat hanya bisa berharap bahwa seruan dari bibir sungai ini terdengar nyata sampai ke telinga para pengambil kebijakan. Sebelum tanah kembali bicara dengan caranya yang paling pahit, dan sebelum tangisan di Buluh Kasok berubah menjadi duka yang permanen. (Bayu)
