Jempolmu Tanggung Jawabmu, Jurus Diskominfo Selamatkan Pelajar dari Bahaya Zombi Internet

0 0
Read Time:1 Minute, 54 Second

​Payakumbuh – Ruang digital hari ini kalau tidak disikapi dengan bijak bisa mengubah penggunanya menjadi “zombi internet”, mereka yang jempolnya tidak terkontrol, kecanduan layar, hingga terjebak toxic-nya dunia maya. Bergerak cepat mengantisipasi hal ini, Pemerintah Kota Payakumbuh langsung memasang jurus jitu untuk menyelamatkan generasi mudanya.

​Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Pemko Payakumbuh memberikan pembekalan literasi digital secara masif kepada ratusan peserta didik baru di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 5 Payakumbuh dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (15/7/2026). Langkah ini menjadi bagian dari komitmen besar Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA) yang aman dari ancaman siber.

​Kepala Diskominfo Kota Payakumbuh, Kurniawan Syah Putra, yang hadir mewakili Wali Kota Zulmaeta, menegaskan bahwa jempol para pelajar adalah penentu masa depan mereka sendiri. Di hadapan ratusan siswa, ia mengingatkan agar teknologi digunakan untuk mendulang prestasi, bukan untuk aksi perundungan (cyberbullying).

​”Media sosial harus menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan berprestasi, bukan tempat melakukan perundungan. Saring sebelum sharing,” tegas Kurniawan.

​Ia memaparkan bahwa teknologi digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, kecerdasan buatan (AI), beasiswa, dan akses ilmu pengetahuan terbuka lebar. Di sisi lain, ancaman seperti hoaks, penipuan daring, judi online, pencurian data pribadi, hingga sextortion mengintai mereka yang lengah.

​Salah satu poin penting yang ditekankan adalah soal jejak digital yang tidak bisa hilang dengan mudah. Kurniawan mengingatkan para siswa agar berpikir matang sebelum mengunggah sesuatu, karena apa yang diketik hari ini bisa menjadi bumerang di masa depan saat mereka mencari kerja atau melanjutkan studi.

​Selain etika, Diskominfo Payakumbuh juga membagikan jurus pola hidup digital yang sehat agar pelajar tidak kecanduan gawai, di antaranya membatasi waktu penggunaan gawai (screen time), mematikan notifikasi saat jam belajar, tidak menggunakan telepon genggam selama proses belajar mengajar di kelas, serta memperbanyak interaksi langsung secara fisik dengan keluarga dan teman.

​”Kita boleh menggunakan teknologi, tetapi jangan sampai teknologi mengendalikan kita. Pola hidup digital yang sehat akan melahirkan pikiran yang cerdas, tubuh yang sehat, dan pribadi yang lebih produktif,” tambahnya.

​Di akhir pembekalan, Kurniawan menitipkan pesan penutup yang kuat bagi seluruh peserta didik baru agar selalu waspada terhadap bahaya deepfake dan kejahatan siber lainnya.

​”Jempolmu adalah tanggung jawabmu. Gunakan media sosial untuk membangun prestasi, menyebarkan kebaikan, dan menjadi generasi digital yang cerdas, beretika, serta bertanggung jawab,” pungkasnya. (Bayu)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %