Payakumbuh – Senin 16 Maret 2026 pagi, udara di Kelurahan Padang Tangah Balai Nan Duo terasa lebih hening dari biasanya. Di sebuah sudut ruang yang biasa menjadi saksi lahirnya larik-larik puisi tajam, sang empunya kata, Iyut Fitra, kini harus menyerah pada raga yang melemah. Sudah satu tahun lamanya, sosok kebanggaan sastra Sumatera Barat ini terbaring, membiarkan pena-penanya beristirahat sejenak di atas meja kayu yang mulai berdebu.
Keheningan itu pecah ketika langkah kaki mantan Bupati Limapuluh Kota periode 2016-2021, Irfendi Arbi, menyambangi kediaman sang sastrawan. Kehadiran Irfendi bukan sekadar kunjungan formalitas seorang tokoh, melainkan sebuah ziarah kasih sayang kepada seorang kawan dan maestro yang karyanya telah lama menghuni hati masyarakat.
Sambil menyerahkan bantuan, Irfendi menatap lekat wajah penulis buku Rumah untuk Kemenakan tersebut. Ada rasa haru yang menggelayut, namun Irfendi memilih membalutnya dengan kehangatan.
Ia mencoba memancing senyum di bibir sang sastrawan dengan sebuah seloroh tulus bahwa sakitnya cukup sampai di sini saja. “Jika sang penyair sakit terlalu lama, masyarakat akan kehabisan bahan bacaan dan dunia sastra akan terasa kering,” ujarnya lirih.
Irfendi menegaskan bahwa kehadirannya pagi itu sengaja dilakukan untuk melihat langsung kondisi Iyut Fitra. Ia berharap kedatangannya mampu memberikan suntikan semangat baru agar sang sastrawan bisa kembali sehat dan kembali menghidupkan imajinasi publik melalui karya-karyanya yang khas.
Iyut Fitra, sosok yang selama ini menjadi ruh di Sanggar Seni Intro Payakumbuh, menyambut doa-doa tersebut dengan mata berkaca-kaca. Meski tubuhnya tak sekuat dulu, semangatnya untuk pulih masih memancar lewat tutur katanya yang rendah hati.
Ia hanya berharap agar banyak orang sudi mendoakannya, supaya penyakit ini segera diangkat oleh Allah dan ia bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.
Rasa syukur juga sempat ia sampaikan sehari sebelumnya, Minggu 15 Maret, atas segala aliran kepedulian dari para dermawan. Ia berharap segala bantuan dan donasi yang diberikan dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda. Kini, di tengah sunyinya rumah yang penuh kenangan itu, ada jutaan kata yang sedang menunggu untuk dituliskan kembali oleh jemari sang penyair. (Bayu)
