Limapuluh Kota, zonamerah.co – Aroma tanah basah dan sejuknya udara Kecamatan Harau menjadi saksi bisu sebuah pertemuan hangat di Lalado Resto, Jumat (27/2/2026). Di pusat ibu kota Kabupaten Limapuluh Kota ini (Sarilamak), sekat antara birokrasi dan kuli tinta sejenak luruh dalam balutan silaturahmi buka puasa bersama. Bukan sekadar karena uap hidangan yang tersaji, melainkan karena aliran rasa syukur yang mengalir di antara jajaran kursi. Di sini, sekat antara pengambil kebijakan dan pencatat sejarah awak media seolah luruh bersama manisnya kolak pisang.
Pertemuan sore itu menjadi panggung bagi Boy Sandi, S.H., anggota DPRD Kota Payakumbuh dari Fraksi Golkar, untuk merajut kembali simpul sinergitas. Baginya, media bukanlah sekadar mitra kerja, melainkan napas yang membuat perjuangan politik menjadi berarti.
”Tanpa media, kami tidak akan hidup dan bersinar seperti ini,” ujar Boy Sandi.
Kalimat itu bukan sekadar sanjungan. Itu adalah pengakuan jujur bahwa setiap kebijakan, setiap suara rakyat yang diperjuangkan di parlemen, hanya akan menjadi gema sunyi tanpa goresan tinta para jurnalis. Boy menegaskan bahwa pintu fraksinya selalu terbuka lebar untuk menampung setiap aspirasi yang dititipkan kawan-kawan media.
Meski raga drh. Nela Abdika Zamri, S.KH, MM, M.Si tak hadir di tengah riuhnya suasana, hangat salamnya tetap sampai melalui lisan Boy Sandi. Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat itu menitipkan pesan persaudaraan, sebuah isyarat bahwa kolaborasi antara daerah dan provinsi harus tetap terjaga demi kesejahteraan masyarakat Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota).
Boy mengajak para kuli tinta untuk terus menjadi kompas yang bijak. “Mari sama-sama membangun Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota melalui pemberitaan yang mengedukasi,” tambahnya.
Suasana kekeluargaan itu disambut hangat oleh Aspon Dedi, S.Hum, Ketua PWI Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Mewakili rekan-rekan media, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas undangan buka bersama tersebut.
Bagi para jurnalis yang hadir, kata Aspon, jamuan ini bukan sekadar urusan mengisi perut setelah seharian menahan dahaga. Ini adalah momentum pengingat bahwa di balik tajamnya kritik dan kerasnya dinamika politik, ada rasa saling menghargai yang tetap terjaga.
”Di Lalado Resto, sinergi itu kembali dikukuhkan, bahwa membangun daerah butuh kerja keras tangan-tangan di parlemen, namun butuh hati dan kejernihan pikiran dari balik meja redaksi,” pungkasnya. (Bayu)
