Limapuluh Kota – Senja di Balai Wartawan Luak Limopuluah pada Minggu (15/3) sore itu tidak hanya membawa aroma hidangan berbuka, tetapi juga sebuah pengakuan yang menyesakkan dada. Di bawah langit yang mulai meredup, Bupati Limapuluh Kota, Safni, memilih untuk menanggalkan jubah protokoler dan berbicara dari hati ke hati. Ada getir yang disampaikannya lewat sebuah kata yang tak biasa keluar dari lisan seorang pemimpin, yakni kata kejam.
Di hadapan puluhan insan pers yang selama ini menjadi saksi bisu dinamika daerah, Safni yang didampingi Wakil Bupati Ahlul Badrito Resha bersuara dengan nada rendah yang nyaris menyerupai bisikan permohonan maaf. Ia berujar bahwa mungkin merekalah yang termasuk kejam karena di tengah badai efisiensi ini, pemerintah belum mampu berbagi lebih dengan rekan-rekan wartawan.
Kata kejam itu bukanlah sebuah tindakan tiran, melainkan sebuah ironi yang lahir dari ruang-ruang anggaran yang sempit, di mana kebijakan efisiensi memaksa pemerintah untuk mengencangkan ikat pinggang demi kepentingan publik yang lebih luas.
Bagi Safni, Balai Wartawan bukan sekadar bangunan bata dan semen, melainkan sebuah rahim ide tempat kritik pedas dan masukan konstruktif lahir untuk menjaga agar nakhoda pemerintahan tidak kehilangan arah.
Meski saat ini keadaan sedang terasa pahit, Wakil Bupati Ahlul Badrito Resha mencoba menyisipkan secarik harapan dengan menjanjikan sebuah perayaan yang lebih manis berupa rencana fasilitas untuk Hari Pers Nasional pada tahun 2027 mendatang. Sebuah janji yang ia titipkan pada waktu agar sinergi tetap terjaga meski kantong daerah sedang kering.
Kejujuran pahit sang Bupati justru disambut dengan hangat oleh Aspon Dedi selaku Ketua PWI setempat. Baginya, tidak ada yang lebih mewah daripada keterbukaan.
“Duduk bersama dalam satu meja makan menjadi simbol bahwa jarak antara penguasa dan pengawas telah melebur dalam sebuah harmoni. Kejujuran Bupati dianggap sebagai fondasi hubungan yang sehat dan sebuah pengakuan atas keterbatasan tanpa harus menutupi kenyataan dengan janji palsu.
Saat adzan Maghrib berkumandang, diskusi berat itu meluruh dalam sujud sholat berjamaah. Di antara sisa-sisa aroma takjil dan diskusi santai setelahnya, ada sebuah pemahaman baru yang terbangun bahwa dalam membangun Limapuluh Kota, terkadang kejujuran untuk mengakui kekejaman keadaan jauh lebih berharga daripada diplomasi yang hampa. (Bayu)
