Bunda, Kapan Aku Makan Daging? TMMD Jawab Mimpi Habib Lewat Jalan Baru di Batas Belantara Limapuluh Kota

0 0
Read Time:10 Minute, 44 Second

Oleh: Bayu Denura

​Bayang-bayang tebing granit yang menjulang megah membuat waktu seolah membeku di Lembah Buluh Kasok. Lanskap alam Jorong Buluh Kasok, Nagari Sarilamak, Kabupaten Lima Puluh Kota ini memang memukau. Namun, di balik kemegahan fajar yang menyapu kabutnya, tersimpan gurat kepasrahan yang telah dipikul warganya selama berpuluh-puluh tahun. Keindahan panorama di sini bertolak belakang dengan kenyataan hidup sehari-hari, warga terkurung oleh pekatnya hutan rimba dan akses jalan tanah yang lekas berubah menjadi bubur lumpur pekat setiap kali langit menumpahkan hujan.

​Namun, dinamika di batas wilayah itu mulai bergeser pada pertengahan tahun 2026. Kicau burung dan gemerisik dedaunan hutan kini bersahut dengan deru konstan mesin ekskavator Kodim 0306/50 Kota. Alat berat itu mulai membelah bukit, meruntuhkan batu-batu besar, dan mengupas tanah melalui pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa/Nagari (TMMD/N) ke-129, yang digelar mulai 15 Juli hingga 13 Agustus 2026. Proyek fisik ini menjadi titik awal untuk meretas isolasi geografis yang mendera warga setempat.

​Pagi itu, di tepi jalur yang sedang dikupas, seorang lelaki paruh baya bernama Damisar berdiri termangu. Sembari membetulkan kain sarung yang melingkari pinggangnya, ia menyeka peluh di dahi. Matanya menatap bentangan tanah merah yang perlahan merata.

​Asosiasi sebagai salah seorang tokoh masyarakat membuat ingatannya melayang jauh pada masa lalu, ketika ujung jorong ini masih menyisakan perkampungan kecil bernama Sikociak. Di kampung kecil itulah keterasingan paling pekat bermukim, sebelum warganya perlahan terpaksa eksodus ke tengah jorong demi menyambung hidup yang lebih layak. Buluh Kasok memang akrab dengan ketertinggalan, bahkan aliran listrik baru menyapa mereka pada tahun 2011 silam lewat program Listrik Desa.

​”Melihat jalan ini akhirnya mulai rata dan lebar, rasanya seperti mimpi lama yang baru terwujud. Dulu kami seperti hidup di dunia yang berbeda, terisolasi. Setiap kali hujan, aliran Sungai Buluh Kasok meluap dan membuat jalan kami jadi bubur lumpur, hingga memutus akses anak-anak menuju SD Negeri 08 Sarilamak dan UPTD SMP Negeri 04 Kecamatan Harau,” kenang Damisar.

​Kini, harapan untuk lepas dari belenggu isolasi itu terpampang di depan mata. Di samping Damisar, beberapa prajurit berpakaian loreng dengan tubuh berselimut debu merah tersenyum ramah, menyambut jabatan tangannya yang erat. Kehadiran Satgas TMMD ke-129 di lapangan menjadi langkah konkret untuk mengurai simpul isolasi geografis tersebut.

​Upaya menghubungkan kembali urat nadi masyarakat di Jorong Buluh Kasok dengan Jorong Aia Putiah sepanjang 2.700 meter dengan lebar 7 meter ini sebetulnya bukan meretas jalur baru, melainkan menelusuri benang merah sejarah yang sempat terputus. Catatan sejarah menunjukkan bahwa jalur penghubung antara kedua jorong tersebut pernah ada dan dilewati warga pada tahun 2005 silam.

​Namun, akibat dibiarkan tanpa pengerasan dan pengaspalan selama bertahun-tahun, alam perlahan merebutnya kembali. Jalan tanah tersebut lambat laun tertutup rapat oleh semak belukar rimbun hingga menyerupai hutan mati. Karena ketiadaan kejelasan akses fisik, sebagian badan jalan yang terbengkalai itu kemudian berubah fungsi dan ditanami oleh berbagai tanaman perkebunan milik warga setempat. Hilangnya jalur ini membuat kedua jorong seolah terpisah oleh jarak psikologis dan ekonomi yang amat jauh.

​Bagi warga Buluh Kasok yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor agraria, hilangnya akses ini adalah pukulan telak bagi kestabilan dapur mereka. Sebelum pengerjaan jalan ini dimulai, warga harus memutar arah sejauh 12 hingga 15 kilometer dengan waktu tempuh hampir satu jam menggunakan sepeda motor modifikasi untuk membawa hasil bumi ke pusat pasar di Sarilamak.

​Kondisi getir ini dirasakan langsung oleh Dt. Bosa nan Aluh. Selain memangku jabatan adat sebagai Niniak Mamak, sehari-hari ia adalah seorang petani yang menggarap ladang gambir serta menanam komoditas hortikultura seperti mentimun, kacang panjang, dan cabai merah di perbukitan Buluh Kasok. Tangannya yang kasar menyiratkan tahun-tahun panjang perjuangan menembus belantara demi menjemput rezeki.

​”Kalau jalan berlumpur, ongkos angkut hasil tani melonjak dua kali lipat. Kami harus membayar upah langsir ojek kebun hingga Rp1.500 sampai Rp2.000 per kilogram hanya untuk melewati jalur lumpur sepanjang dua kilometer itu. Padahal harga jual gambir di tingkat petani sering tidak stabil,” keluh Dt. Bosa nan Aluh sembari menghela napas.

​Ia menambahkan, tantangan terbesar justru ada pada komoditas sayur segar. “Untuk sayuran seperti mentimun, kacang panjang, dan cabai merah yang sifatnya cepat busuk, kalau tertahan lumpur sehari saja, kualitasnya langsung turun dan harganya anjlok di pasar. Sebagai petani, kami sering kali habis di ongkos jalan dan rugi karena hasil tani rusak sebelum terjual,” tuturnya. Jika dikalkulasi, setiap petani di wilayah ini bisa kehilangan potensi pendapatan hingga 20-30% hanya untuk menutup biaya logistik di jalan rusak.

​Tantangan terbesar bagi program fisik kali ini bukan sekadar topografi ekstrem dengan elevasi yang curam, melainkan kondisi sisa-sisa jalur lama yang kini menjelma menjadi jalan setapak sempit, berliku, dan rimbun oleh tanaman kebun. Di ranah Minang, setiap jengkal ladang perkebunan yang mengapit jalan setapak tersebut adalah sumber kehidupan yang dijaga turun-temurun hingga ke anak kemenakan. Pelebaran jalur tentu berkonsekuensi pada terkikisnya sebagian tanaman warga di tepi jalan.

​Meningkatnya urgensi kebutuhan jalan membuat jajaran Kodim 0306/50 Kota bersama Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota datang bermusyawarah dengan pemuka masyarakat. Alih-alih merisaukan tanaman kebun yang terdampak, rencana pelebaran jalan, pembukaan badan jalan baru, serta penurunan elevasi curam sepanjang 2.700 meter itu justru disikapi secara terbuka.

​Para Niniak Mamak, termasuk Dt. Bosa nan Aluh, segera mengumpulkan anak kemenakan dan menyatukan pemikiran demi kemaslahatan bersama. Ketika Pemkab Lima Puluh Kota dan Dandim datang membawa rencana pembangunan ini, kaum adat tidak berpikir dua kali. Sebagai sesama petani yang akrab dengan peluh di ladang cabai dan gambir, mereka merasakan betul bagaimana beratnya memikul hasil bumi berkilo-kilometer menerobos jalan setapak yang kerap terputus saat hujan.

​Kepedulian adat ini disuarakan dengan lantang oleh tokoh masyarakat lainnya, Dodi Putra Dt. Gindo, dan diamini oleh Kepala Jorong Buluh Kasok, Edison. Dukungan penuh diserahkan tanpa syarat ganti rugi lahan.

​”Tanaman kebun yang terdampak pelebaran jalan ini tidak ada apa-apanya dibanding masa depan anak kemenakan kami yang selama ini harus memikul hasil bumi menerobos lumpur. Kami ikhlas menyerahkan tanah dan tanaman kami, karena kami tahu jalan ini adalah pembuka akses kemakmuran untuk generasi Buluh Kasok ke depan,” tegas Dodi Putra Dt. Gindo.

​Edison, selaku Kepala Jorong setempat, mengamini betapa antusiasme warga di lapangan tidak terbendung sejak hari pertama pengerjaan.

​”Warga di sini bahkan langsung turun ke jalan membawa parang dan cangkul sendiri untuk membantu pengerjaan fisik. Ini pembuktian kalau kami memang sudah sangat haus akan kemajuan,” ujar Edison.

​Edison juga menambahkan bahwa Buluh Kasok sebenarnya menyimpan potensi wisata alam tersembunyi yang besar, seperti air terjun Sarasah Madu, Ikan Banyak (Ikan Larangan) di Sikociak dan Kapalo Banda, yang bahkan sempat dikunjungi oleh wisatawan mancanegara asal Argentina beberapa waktu lalu. Namun, potensi ekonomi kreatif ini selalu layu sebelum berkembang akibat hambatan aksesibilitas.

​Kesepakatan adat tersebut kemudian mewujud menjadi simfoni gotong royong dan kolaborasi di batas belantara. Dengan mengusung tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa”, aksi nyata di lapangan resmi dimulai. Personel Kodim 0306/50 Kota, Pemerintah Daerah, dan masyarakat bahu-membahu membelah belantara.

​Setiap pagi, di satu sisi, ekskavator meratakan tebing curam dan memasang gorong-gorong di lima titik strategis. Di sisi lain, pekerjaan jalan dan pondasi dikebut secara presisi guna memastikan struktur penahan dan landasan jalan terbangun kokoh agar tahan terhadap kikisan air hujan mengingat curah hujan di wilayah ini tergolong tinggi. Warga jorong dengan sukarela mengayunkan cangkul, membersihkan sisa tebangan pohon, dan melangsir material bersama para prajurit.

​Tidak hanya berfokus pada akses jalan, infrastruktur vital lainnya turut disentuh. Masalah klasik ketersediaan air bersih di wilayah pelosok dijawab dengan dimulainya pengerjaan pipanisasi. Melalui instalasi jaringan pipa yang terencana, air bersih kini mengalir langsung menuju fasilitas umum dan pemukiman, memangkas beban warga yang selama ini harus memikul air dari sumber mata air yang jauh di perbukitan.

​Kehadiran para prajurit di tengah perkampungan lambat laun mencairkan kecanggungan warga. Rumah-rumah yang biasanya sepi karena ditinggal anak-anak merantau, kini kembali dinamis dengan kehadiran personel Satgas yang menumpang tinggal. Mereka makan bersama, bertukar cerita, hingga saling membantu aktivitas harian warga. Kedekatan itu kian mengental saat posko kesehatan tambahan bergerak aktif menyisir pemukiman warga.

​Pembangunan fisik yang masif ini pada akhirnya ikut membuka jalan bagi perbaikan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh melalui program non-fisik. Langkah ini diwujudkan melalui pelayanan kesehatan gratis yang menjangkau lini paling dasar, termasuk program intervensi terpadu untuk pencegahan stunting dan wasting atau anak kurus akibat kurang gizi akut. Petugas medis secara berkala mengunjungi rumah-rumah, memberikan bantuan vitamin, serta mengedukasi para ibu mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang pada periode tumbuh kembang anak.

​Di sinilah benang merah antara infrastruktur jalan, perbaikan gizi, dan masa depan pendidikan anak-anak Buluh Kasok saling bertautan secara logis. Selama ini, sebagai wilayah yang masuk dalam zonasi daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), akses terhadap bahan pangan segar dan bergizi terhambat oleh rusaknya jalan. Angka stunting yang sempat membayangi wilayah pelosok ini tidak lepas dari sulitnya pasokan protein segar seperti daging dan telur masuk akibat terkendala transportasi. Jikapun ada, harganya menjadi terlampau mahal bagi kantong petani lokal jika dibeli ke tukang garendong yang harus melintasi jalur ekstrem tersebut.

​Di tengah situasi inilah, kehadiran rintisan jalan baru sepanjang 2,7 kilometer ini kelak akan memegang peran vital sebagai jalur distribusi utama untuk memasok komoditas pangan segar dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah ke sekolah-sekolah di pelosok. Hambatan logistik berupa jalan rusak yang selama ini menjadi momok bagi pemenuhan gizi anak-anak kini mulai terurai.

​Harapan akan perbaikan gizi itu sangat nyata di tingkat akar rumput. Di sebuah rumah sederhana, seorang bocah kelas 6 SD Negeri 08 Sarilamak bernama Habib, sempat melontarkan pertanyaan polos kepada ibunya mengenai program pangan tersebut.

​”Bunda, kapan aku bisa mendapatkan MBG?” tanya Habib lirih. “Habib juga ingin makan ayam dan daging dendeng yang enak. Sebelumnya, kami makan ayam dan daging itu hanya sekali setelah hari raya Idulfitri. Bahkan saat hari raya Iduladha pun, tidak banyak sapi dan kambing yang dikorbankan di kampung ini,” ujar ibu Habib, Lismawati (53), menirukan ucapan anaknya kepada jurnalis yang meliput di lapangan.

​Pertanyaan jujur Habib mencerminkan betapa asupan gizi berkualitas masih menjadi barang mewah di pelosok ini. Perjuangan anak-anak di Buluh Kasok untuk menuntut ilmu pun tidaklah mudah. Banyak siswa dari daerah pelosok lain seperti Taeh dan Panti Rajo di Jorong Buluh Kasok harus berjalan kaki hingga satu jam perjalanan untuk pergi dan pulang sekolah menembus jalur berbukit yang kerap berlumpur.

​Dengan dibukanya akses jalan baru ini, rantai pasok logistik untuk menyalurkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah mereka dapat berjalan tanpa hambatan. Kendaraan pengangkut bahan pangan tidak perlu lagi khawatir terjebak lumpur pekat saat hujan melanda. Begitu lonceng pulang berbunyi dan kaki-kaki kecil mereka bersiap melangkah pulang, asupan gizi mereka setidaknya telah tercukupi melalui program yang terdistribusi lancar berkat terbukanya jalur transportasi ini.

​Paralel dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan, pihak Kodim bersama instansi terkait juga menggelar serangkaian penyuluhan interaktif di balai jorong. Mulai dari penyuluhan wawasan kebangsaan, kesadaran hukum mengenai hak-hak adat dan pertanahan, hingga pelatihan peningkatan ekonomi kerakyatan untuk optimalisasi hasil perkebunan pasca-TMMD.

​Melalui integrasi program tersebut, Buluh Kasok kini perlahan bersiap menatap gerbang ekonomi baru. Program TMMD ke-129 di bawah komando Letkol Inf. Adi Nofriadi Nata selaku Dansatgas sekaligus Dandim 0306/50 Kota, tidak sekadar mengupas tanah merah, melainkan sedang merajut aksesibilitas jangka panjang.

​”Setiap meter tanah yang diratakan di lapangan merupakan upaya konkret untuk mengikis ketimpangan pembangunan di wilayah pelosok. Medan ekstrem dan tebing batu di Lembah Buluh Kasok ini memang berat, namun pengerjaan harus tuntas demi membuka ruang pertumbuhan baru bagi masyarakat,” ujar Letkol Inf. Adi Nofriadi Nata.

​Selain membuka rintisan jalan sepanjang 2,7 kilometer dengan pondasi yang kokoh dan perbaikan jembatan penyeberangan, proyek ini juga menyelesaikan pengerjaan sanitasi, akses air bersih melalui sumur bor, serta pembangunan tujuh unit Rumah Layak Huni (RLH).

​Secara ekonomi, jalan baru ini memangkas waktu tempuh secara drastis. Perjalanan dari Buluh Kasok menuju Jorong Aia Putiah untuk mencapai pusat ibu kota Sarilamak yang semula memakan waktu hingga satu jam memutar melewati jalan rusak, kini dapat ditempuh hanya dalam waktu 5 hingga 15 menit saja melalui rute pintas baru ini.

​Lebih strategis lagi, kawasan Buluh Kasok ke depan diproyeksikan sebagai pintu masuk Gerbang Tol Payakumbuh – Pangkalan, yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Tol Padang – Pekanbaru. Jalur penghubung yang dibuka oleh TMMD ini otomatis akan menjadi penyokong logistik lokal yang menghubungkan wilayah pertanian sayur dan gambir milik warga langsung ke koridor utama jalan tol tersebut. Sebuah lompatan besar bagi wilayah yang dulunya terisolasi.

​Pengerjaan di lapangan memiliki batas waktu, namun dampak pembangunan fisiknya diharapkan berumur panjang. Ketika masa bakti TMMD ke-129 ini berakhir, alat-alat berat akan ditarik kembali ke markas, namun wajah Jorong Buluh Kasok tidak akan kembali seperti semula.

​Tempat yang dulunya sunyi kini bersiap menyambut deru kendaraan anak sekolah yang lebih aman, hilir mudik mobil bak terbuka yang mengangkut komoditas bumi tanpa hambatan lumpur, serta distribusi program pangan dan kesehatan yang berjalan lancar. Di atas tanah sepanjang 2.700 meter yang kini telah kokoh, terdapat kolaborasi nyata antara masyarakat adat, pemerintah daerah, dan TNI, sebuah fondasi kemandirian yang kini bersiap menyambut masa depan yang lebih terbuka. (*)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %