Payakumbuh – Di Jalan Rangkayo Rasuna Said, Senin 16 Maret 2026 sore itu, tembok birokrasi yang biasanya kaku mendadak luluh oleh aroma takjil. Namun, bagi para pemburu berita Luak Limopuluah, langkah kaki mereka ke Rumah Dinas Walikota Payakumbuh bukan sekadar untuk menuntaskan lapar. Ada sebuah tagihan profesionalisme yang ingin mereka sampaikan di sela-sela denting sendok dan garpu. Selama ini, hubungan pejabat dan pers sering kali terjebak dalam basa-basi seremonial, tapi sore itu di bawah tatapan Walikota Zulmaeta, ada ketegangan positif yang menuntut lebih dari sekadar jabat tangan.
Walikota Zulmaeta tidak sedang ingin berbasa-basi. Dengan nada bicara yang lugas, ia justru menelanjangi perilaku birokrasi yang sering kali menutup diri. Ia mengakui bahwa tanpa kritik jurnalis, pembangunan di Kota Randang hanyalah sebuah narasi sepihak yang rawan melenceng.
“Teruskan fungsi kontrol sosial, itulah yang menjaga kami untuk tetap berjalan di jalur yang lurus,” tegas Zulmaeta.
Ia bahkan melempar peringatan keras kepada jajarannya agar jangan pernah alergi terhadap konfirmasi. Sebuah kalimat singkat yang menohok, sekaligus menjadi pengakuan bahwa selama ini mungkin masih ada dinding tinggi yang menghalangi awak media dalam mencari kebenaran.
Namun, pujian walikota itu justru menjadi momentum bagi Sekretaris PWI Payakumbuh-Limapuluh Kota, Meddy Sulhendi, untuk melempar realitas pahit.
Baginya, jurnalis tidak boleh hanya dipuji lalu dibiarkan berjalan di tempat. Di hadapan Walikota dan Sekda Rida Ananda, Meddy menyuarakan kegelisahan rekan-rekan sejawatnya yang selama ini masih berada di luar pagar kompetensi. Sebuah metafora tentang jurnalis yang punya nyali, tapi belum memiliki sertifikasi yang diakui negara secara profesional.
“Kami ingin naik kelas, dari wartawan muda menjadi madya. Jika pemerintah kota mendukung Uji Kompetensi Wartawan atau UKW, ini bukan soal gelar, tapi soal marwah informasi,” ujar Meddy tajam.
Meddy jelaskan bahwa pers tidak ingin lagi hanya menjadi penonton atau sekadar penggembira di setiap agenda pemerintah. Mereka menuntut kualitas karena saat jurnalis berkompeten, publik tak lagi diberi sampah informasi, melainkan berita yang punya presisi dan integritas tinggi.
Wandi Syamsir menambahkan bahwa sinergi ini adalah harga mati untuk menjaga transparansi kota agar tidak sekadar menjadi slogan di atas kertas.
“Buka bersama di penghujung Ramadan ini seolah membedah bahwa hubungan pemerintah kota dan pers adalah kerja kolaboratif yang berdarah-darah setiap hari, bukan sekadar reuni manis sekali setahun di bulan suci. Di balik jamuan yang hangat, ada janji untuk tidak lagi membiarkan para penjaga gawang informasi hanya berdiri di pinggir lapangan, mantap,” cetusnya.
Saat azan Magrib memecah diskusi dan doa bersama dipanjatkan, ada kesadaran baru yang tertinggal di rumah dinas tersebut. Sebuah komitmen besar diteken tanpa tinta bahwa Payakumbuh harus dibangun oleh tangan-tangan yang kompeten, baik mereka yang memegang kebijakan maupun mereka yang memegang pena. (Bayu)
