Payakumbuh, — Di sepanjang aliran Batang Sikali, warga Kelurahan Tiakar berkumpul bukan semata untuk menyalurkan hobi memancing. Lomba mancing ikan larangan yang digelar masyarakat setempat menjadi ruang perjumpaan, tempat kebersamaan dirawat, sekaligus sarana berbagi bagi sesama.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh, Hurisna Jamhur, baru-baru ini. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Tiakar, Benni, S.H., yang memberikan apresiasi atas inisiatif warga dalam menjaga kerukunan melalui kearifan lokal. Lomba mancing ini dilaksanakan rutin tiga kali setahun sebagai upaya memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Dalam sambutannya, Hurisna Jamhur memandang kegiatan ini sebagai pengingat bahwa kehidupan bersama tumbuh dari perjumpaan yang sederhana namun dijalani dengan niat yang tulus. Beliau menekankan bahwa kebersamaan sering kali tidak lahir dari peristiwa besar, melainkan tumbuh pelan dari ruang-ruang kecil ketika warga mau berhenti sejenak untuk saling menyapa dan menyadari bahwa mereka berbagi tempat hidup yang sama.
Hurisna juga menjelaskan bahwa makna ikan larangan melampaui sekadar aturan adat. Tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk menahan diri dan menjaga alam agar pada waktunya dapat memberi manfaat bagi semua. Menurutnya, di sana terdapat nilai kesabaran, keadilan, dan rasa tanggung jawab bersama yang menjadi fondasi kepercayaan sosial dalam masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi tentang bagaimana manusia merasa terhubung dengan sesama dan lingkungannya.
Sejalan dengan hal itu, Lurah Tiakar Benni, S.H., menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang berbasis swadaya masyarakat ini. Benni menilai peran aktif warga dalam mengelola potensi sungai merupakan bentuk nyata dari gotong royong yang harus terus dipertahankan di tingkat kelurahan.
Menurutnya, sinergi antara nilai adat dan kegiatan sosial ini membawa dampak positif bagi pembangunan karakter masyarakat Tiakar ke depan.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tiaka, Sepriyendi, menambahkan bahwa kegiatan ini juga memiliki dampak nyata bagi fasilitas keagamaan. Dana pendaftaran yang terkumpul dari peserta dimanfaatkan untuk mendukung renovasi Masjid Muhsinin yang berada di depan Kantor Lurah Tiaka, serta pemberian santunan bagi anak yatim piatu di Kenagarian Tiaka.
Selain aspek sosial, lomba ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali potensi alam Batang Sikali. Di sepanjang aliran sungai, warga telah menanam tanaman produktif dan rutin menebarkan kembali bibit ikan setiap kali lomba usai. Dengan cara ini, sungai tidak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi menjadi ruang hidup yang dirawat secara kolektif oleh warga dan pemerintah setempat demi keberlanjutan masa depan. (Bayu)
