Limapuluh Kota – Menanggapi kekhawatiran masyarakat akan potensi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota melakukan peninjauan lapangan dan kaji cepat terhadap keberadaan pohon yang dikhawatirkan warga akan tumbang menimpa pemukiman di Jorong Buluh Kasok, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Jumat (3/4).
Pemeriksaan ini dilakukan menyusul adanya laporan warga terkait posisi pohon yang dianggap mulai membahayakan bangunan di sekitarnya. Atas dasar tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, Zaimar Hakim, segera menginstruksikan tim Pusdalops-PB untuk turun ke lokasi guna melakukan pengecekan risiko secara teknis.
”Perintah pengecekan lokasi ini merupakan bentuk respons cepat terhadap keresahan warga. Kita harus memastikan apakah ancaman tersebut bersifat mendesak atau membutuhkan penanganan dalam bentuk lain,” jelas Zaimar Hakim.
Tim yang dipimpin oleh Miko Darlis bersama tujuh personel lainnya melakukan koordinasi dengan pihak Nagari dan Wali Jorong sebelum melakukan observasi fisik. Berdasarkan hasil kaji cepat, tim menyimpulkan bahwa untuk saat ini pohon tersebut belum dikategorikan membahayakan secara langsung terhadap rumah warga. Hal ini didasari pada pengukuran jarak antara pohon dengan bangunan yang masih terpaut sekitar 15 meter.
Meski potensi pohon tumbang dinilai belum mendesak, pengamatan tim di lapangan justru menemukan akar permasalahan lain yang lebih serius. Ditemukan adanya gerusan tanah akibat perpindahan aliran sungai dari jalur semula. Abrasi ini dikhawatirkan akan terus mengikis stabilitas lahan di sekitar pemukiman jika tidak segera ditangani.
Menindaklanjuti temuan tersebut, BPBD memberikan saran strategis kepada pihak Nagari. Masyarakat melalui Wali Nagari diarahkan untuk segera melaporkan kondisi pengikisan lahan ini kepada Balai Wilayah Sungai (BWS). Langkah normalisasi sungai dinilai menjadi prioritas utama untuk menjaga keamanan lingkungan dan struktur tanah di wilayah tersebut.
Kegiatan ini melibatkan sinergi antara personel BPBD, perangkat nagari, serta masyarakat setempat, sebagai bagian dari upaya kolektif mewujudkan wilayah yang tangguh terhadap bencana.
Sebelumnya kekhawatiran ini dirasakan langsung oleh Yulinar, salah seorang warga yang rumahnya berada tepat di tepi aliran sungai. Ia mengaku cemas setiap kali angin kencang atau hujan deras datang, mengingat posisi pohon yang tinggi dan kondisi tanah yang terus terkikis.
”Kami sangat khawatir pohon itu sewaktu-waktu tumbang dan menimpa rumah. Apalagi sekarang aliran sungai sudah berpindah dan menggerus tebing di dekat sini,” ujar Yulinar di lokasi.
Ia pun menaruh harapan besar agar pemerintah segera mengambil langkah nyata sebagai bentuk antisipasi sementara.
“Kami berharap ada tindakan cepat, setidaknya menurunkan alat berat ekskavator untuk memindahkan material ke bagian tebing yang abrasi, agar pengikisan tidak semakin meluas ke arah rumah kami,” harapnya. (Bayu)
