Limapuluh Kota – Di antara debu jalanan Tanjung Pati, Kabupaten Limapuluh Kota, sebuah langkah terhenti dan ketangguhan seorang raga diuji. Pena yang biasanya menari lincah di atas kertas kini terdiam kaku saat tubuh tak lagi mampu menopang beban. Di tengah gema selawat yang kini memenuhi surau-surau di bulan Ramadan 1447 H, sebuah kisah tentang ketulusan menyeruak dari balik hiruk-pikuk berita.
Bagi Antoni Surya atau yang akrab disapa Anton Cino, ibadah paling nyata dalam hidupnya di bulan suci ini bukanlah tentang susunan kata-kata, melainkan tentang sebuah punggung. Punggung milik Mahwel, karibnya yang lebih dikenal dengan nama Aweng, kini seolah menjelma menjadi kaki yang dipinjamkan Tuhan untuknya.
Kejadian pilu itu bermula sebulan lalu, tepat sebelum Ramadan tiba. Langkah Anton terhenti seketika akibat kecelakaan tunggal dalam perjalanan pulang menuju Tanjung Pati. Cedera serius menghantam bagian pinggang ke bawah, membuat sosok yang biasanya gesit mengejar narasumber itu kini lunglai. Anton lumpuh sementara dan kehilangan kemampuan untuk sekadar menumpu berat badannya sendiri.
Namun, di saat umat Islam menjalankan ibadah puasa, Aweng hadir laksana jawaban atas doa-doa yang terpanjat. Ia tidak sekadar datang membawa simpati lewat untaian kata, melainkan menyerahkan raganya untuk menjadi penopang di bulan yang penuh berkah ini.
Dari Payakumbuh hingga pelosok Batusangkar, Aweng setia menjadi kaki bagi seniornya. Tak ada keluhan saat ia harus merengkuh tubuh Anton, menggendongnya perlahan masuk ke ruang ronsen, atau meniti langkah menuju tempat terapi di sela-sela waktu puasanya.
Bagi para saksi mata termasuk rekan mereka, Om Kenong, pemandangan itu adalah potret kemanusiaan yang lebih tajam dari lensa kamera mana pun. Di saat orang-orang sibuk mengejar pahala ritual, Aweng mempraktikkan ritual kemanusiaan yang sunyi namun mendalam dengan meminjamkan kekuatannya bagi yang lemah.
”Sebagai sesama manusia kita wajib tolong-menolong, apalagi kami sama-sama wartawan yang bernaung di satu wadah, PWI,” ujar Aweng singkat pada Selasa (10/3), saat ditanya soal kesetiaannya yang melampaui batas profesi.
Bagi Aweng, persaudaraan di bawah bendera Persatuan Wartawan Indonesia bukanlah sekadar slogan formalitas. Ini adalah tentang rasa korsa yang tak boleh kehilangan iman. Ia memastikan bahwa ketika seorang kuli tinta tak lagi mampu memegang pena, saudara serumpunnya harus hadir untuk memastikan ia tidak jatuh sendirian di bulan yang penuh ampunan ini.
Dengan mata berkaca-kaca, Anton hanya bisa menatap punggung sahabatnya itu dari belakang. Punggung yang kini menjadi tumpuan harapannya, kaki yang memungkinkannya kembali melangkah.
”Aweng adalah kaki saya di saat saya tidak bisa melangkah. Dia memberi saya keyakinan bahwa perjuangan ini belum berakhir,” bisik Anton lirih. Bagi Anton, kehadiran Aweng adalah bukti nyata bahwa pertolongan Tuhan bisa datang melalui pundak seorang sahabat di bulan Ramadan ini.
(Bayu)
