Limapuluh Kota — Hujan yang turun di Jorong Buluh Kasok tak pernah hanya membawa dingin, tetapi juga kecemasan. Bagi warga di jorong yang terletak di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau ini, derasnya air hujan selalu berarti lumpur tebal yang siap menelan roda kendaraan dan memutus ikatan mereka dengan dunia luar.
Jalan sepanjang 6 kilometer yang menghubungkan Napa dan Parantian Rajo bukan sekadar hamparan tanah dan batu. Bagi anak-anak di sana, jalan itu adalah medan perjuangan. Berangkat menuju SDN 08 Sarilamak atau UPTD SMPN 4 Harau acap kali menjadi ujian ketabahan. Seragam sekolah yang rapi dari rumah tak jarang bersimbah lumpur sebelum mereka sempat menyapa guru di kelas.
”Kami hanya ingin anak-anak bisa sekolah tanpa harus menyiram kaki yang berlumpur setiap pagi, dan para petani bisa membawa pulang rezeki tanpa takut terjatuh di jalan,” tutur Wali Nagari Sarilamak, Olly Wijaya, Kamis (20/8/2026).
Meski luput dari perhatian dan terabaikan oleh uluran tangan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, warga Buluh Kasok memilih untuk tidak terus meratapi nasib. Tak ingin terus terbelenggu dalam ketertinggalan akibat minimnya infrastruktur, mereka memilih jalan mandiri untuk keluar dari isolasi.

Didampingi Kepala Jorong Edison, ratusan pasang tangan bergerak bersama mengandalkan kekuatan swadaya, termasuk menghadirkan bantuan alat berat untuk mengeruk dan meratakan medan yang ekstrem. Tanpa memandang batas, tua dan muda menyisihkan rupiah dari dompet yang tak seberapa, menyumbang material, hingga menumpahkan peluh di bawah terik matahari. Raungan mesin alat berat berpadu dengan ayunan cangkul warga, menata batu demi batu diiringi semangat gotong royong yang membara di antara wajah-wajah lelah.
”Swadaya ini bukan sekadar perbaikan fisik jalan sepanjang 6 kilometer. Di setiap cangkulan tanah, rataan mesin, dan susunan batu yang mereka kerjakan bersama, tertanam harapan besar agar roda perekonomian petani lokal kembali berputar lancar, serta langkah kaki anak-anak Buluh Kasok menuju masa depan tak lagi terhambat oleh pekatnya belukar lumpur,” pungkas Edison. (Bayu Denura)
